Niatan pergi ke Lawu bermula saat saya merasa suntuk banget, abis ujian semester. Lalu ‘cling’ muncul insight ayo naik gunung, langsung yang pertama kali terbayang Lawu, Kenapa? Simple karena belum pernah ke sana. Lalu telpon Habib,
“Ayo munggah gunung Bib?” kata saya
“neng, endi?” Tanya habib
“Lawu”
“karo sopo, sopo wae?”Tanya Habib lagi
“Cah loro” kata saya
“yo sesuk lah gampang”
setelah beberapa kali rembug, masang iklan di bulletin Friendster, akhirnya ….Muafix ikut. Jadilah bertiga menantang bahaya menuju Lawu (koyo opo wae). Disepakati tanggal 23 Juni naik.
Tanpa pengalaman
Dari tiga orang ini belum ada satupun yang pernha naik ke Lawu, hanya mengandalkan surfing di internet, Tanya-tanya orang. Termasuk rute perjalanan Sampai di Gunung lawunya sendiri. Sebenernya saya lebih mengkhawatirkan apakah kami bisa sampai ke Gunung Lawu, Bukan khawatir bagaimana cara naik, apakah nanti tersesat pas naik Lawu.
Berbekal informasi yang didapat dari internet, dan Tanya-tanya ke teman. Akhirnya kami berangkat naik prameks, terus disambung bus ke tawangmangu, disambung lagi angkutan ke Cemoro Sewu (basecamp nya)
The trip begin
Karena kami naik Prameks yang jam 7, maka pagi-pagi benar sudah berangkat, motor dititipkan ke tempat Aswin, dari tempat aswin, diantarkan ke Stasiun Lempuyangan, Nunggu kereta (jadi ingat iwan fals), mau pipis, ke toilet, ee antrinya lama banget, belum sempat ke toilet prameks sudah datang. Setengah berebutan kami naik prameks, pertamanya tidak dapat tempat duduk, untung ada muafix yang memiliki penglihatan yang jeli. Duduk deh. Setengah perjalanan, habib perutnya sakit mau kebelakang, sedang saya kandung kemih berontak. Di dalam hati kami kapan sampai di Stasiun Balapan (jadi ingat Didi Kempot). Akhirnya Stasiun Balapan (perjalanan Cuma 1 jam, mbayar karcis 7000), tujuan pertama toilet.Legaaa rasanya.
Dengan Bekal nekad bertanya nggak malu-maluin, saya lalu bertanya kepada penjaga toilet
"Pak nek ajeng teng Tirtonadi (lagi-lagi didi kempot) medhal pundi?"
"Njenengan manut rel niki, terus , notok teteg sepur belok kiri....lha ajeng teng pundi to mas?"
"teng tawangmangu"
"ooo nggih nek teng tawangmangu nggih niko wau mengkih nyegad teng pertigaan sauwise teteg sepur"
"ooo nggih nuwun pak"
lalu melanjutkan perjalanan, kira-kira 500m, akhirnya ketemu bis Langsung Jaya (terkenal banyak kecelakaan) jurusan tawangmangu, bisnya ada tv, vcdplayer, disetelke lagu dangdut hehe sip okoke. sampai tawangmangu jam10.15, langsung ganti omprengan jurusan cemoro sewu (lupa bisnya mbayar 7000, omprengannya 5000), asapnya banyak, saya pusing mau muntah. Finally sampai di cemoro Sewu jam 10.45. temennya bawang Cabe deh hehe.
The pendakian
setelah sampai cemoro sewu, kami nongkrong-nongkrong, istirahat. Kemudian karena perut lapar mampir ke warung beli sego pecel, wah enak lo, lalu ke masjid sholat bagi yang sholat. Jam 12an kami mulai naik. setelah lapor dan lain-lain, mulai deh.
Kabut mulai turun, diselingi gerimis, kok sepi ya keadaan, nggak kayak gunung-gunung, nafas mulai berat, nikotin keluar hehe. Baru beberapa meter meninggalkan pintu masuk, sudah menemukan tenda berisi dua pasang anak manusia (lawan jenis tentunya, ngapain ya?) Setelah beberapa kali naik turun, belok kanan kiri,sampai di pos1, lalu jalan mulai naik banget, yang bikin capek jalurnya dibikin kayak tangga (naik ke gedung kuliah aja udah ngos-ngosan apalagi ini), akibatnya stamina udah mulai turun, pos 2 membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapainya. dengan keadaan dingin, tubuh capek kami menyerah (sebetulnya saya yang menyerah) mencapai puncak sudah bukan tujuan ,,, tujuannya pulang, kangen je
Ritme perjalanan yang kacau, nafas yang tidak teratur, tubuh yang tidak terlatih, stamina yang payah adalah factor-faktor yang menyebabkan gagalnya pencapaian ke puncak. Perlu diketahui walaupun Habib tergabung dalam mapagama, dan saya pernah beberapa kali naik gunung tapi kok ya kalah dengan muafiq yang berkali-kali meninggalkan jarak yang jauh di depan kami.
Sampai di pos 3—pos 3 berupa bangunan beratap, mirip gubug—dingin yang sudah menyerang tubuh ini benar-benar gila. Kami langsung mendirikan dome. Dan langsung njingkrung di dalam dome. Langkah pertama adalah membuat kopi untuk menghangatkan diri, setelah itu bikin sarimi, can you imagine 6 sarimi dibuat di nesting, airnya dikit, wah nganti mlendhek-mlendhek(kata orang kalau lapar makanan apa saja pasti habis, ternyata itu tidak terbukti, sariminya tidak habis). When nature calls, saya bingung, harus keluar dome menghadapi kedinginan. Dengan gagah berani saya keluar, terus pipis tidak lupa sebelum pipis mengucap mantra
“amit-amit mbah, bismillah, kulo pipis teng riki soale mboten enten wc”
biar tidak aboh.
Kembali ke tenda, sialnya saya harus keluar lagi untuk mengulangi ritual yang sama. Dan hasil yang didapatkan saya muntah-muntah akibat kedinginan.
Malam pun berlalu menjadi pagi, sepanjang malam dingin ters menyerang dengan segala kekuatan, membuat sleeping bag yang saya pakai tidak begitu ada manfaatnya, apalagi muafiq yang hanya memakai selimut. Sepanjang malam pula banyak pendaki yang istirahat sebentar di samping dome kami, banyak pendaki yang memutuskan untuk turun karena tidak kuat, ataupun mendirikan dome di pos 3. Pagi menjelang saatnya kami untuk pulang.
Setelah urusan packing beres, turunlah kami, disepanjang perjalanan sifat-sifat narrsis keluar, berfoto ria (niate opo sih). Turun juga capek sih, tapi tidak secapek kalau naik. Kira-kira menghabiskan waktu 4 jam untuk turun. Soto ayam sudah menyambut kami. Walaupun rada nggak ada rasanya (kurang bumbu), tapi ya dimakan lah
Sebelum naik angkot menuju tawangmangu, kami ke Masjid (untuk cuci muka, pipis ). Dari Tawangmangu, naik bis yang sama ketika kami berangkat, ke Tirtonadi. Turun di tirtonadi, harus jalan kira-kira 1 km ke Stasiun Balapan (mengejar prameks). Sampai di stasiun balapan, ritual yang sama. Ternyata eh ternyata prameksnya diajuin jamnya. Naik prameks, kami pulang………